Keranjang Anda kosong!

(Jurnalispreneur.id, Bantul) โ Desa (Kalurahan) Muntuk yang terletak di Kapanewon Dlingo, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, telah lama dikenal sebagai pusat kerajinan bambu yang produktif. Desa ini menjadi pemasok utama berbagai produk anyaman bambu yang dijual di Pasar Beringharjo Yogyakarta, salah satu pasar tradisional paling ikonik di DIY.
Menurut Nuryadin, Pengurus Harian Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kepanewonan Dlingo, sekitar 90% produk bambu yang dijual di Pasar Beringharjo merupakan hasil karya para pengrajin dari Desa Muntuk. “Hampir seluruh produk anyaman bambu yang ada di Pasar Beringharjo itu hasil karya pengrajin kami di Desa Muntuk. Ini menunjukkan betapa tingginya kualitas dan produktivitas para pengrajin di desa kami,” ujar Nuryadin saat ditemui di lokasi, Senin (20/10/2025).
Tak hanya berfokus pada produksi, Desa Muntuk juga mengembangkan potensi edukatif dan pariwisata melalui pengelolaan Kawasan Wisata Pinus Asri. Tempat ini bukan hanya destinasi wisata alam yang pernah menjadi tempat shooting KKN di Desa Penari, tetapi juga menjadi pusat pembelajaran kriya bambu yang terbuka untuk umum. “Kami sering kedatangan tamu dari luar daerah, bahkan dari luar Jawa, yang ingin belajar teknik menganyam bambu. Mereka antusias untuk mengetahui bagaimana proses pembuatan kerajinan bambu dari awal hingga menjadi produk jadi,” tambah Nuryadin.
Minat masyarakat luar terhadap pelestarian kerajinan bambu tradisional terus meningkat. Beberapa kunjungan edukatif dari berbagai daerah telah tercatat dalam beberapa bulan terakhir, menunjukkan tingginya animo terhadap kriya bambu sebagai warisan budaya yang perlu dijaga dan dikembangkan. Produk yang dihasilkan oleh pengrajin Desa Muntuk sangat beragam, mulai dari tas, tempat tisu, keranjang, hiasan dinding, hingga furnitur bambu bergaya kontemporer. Inovasi desain yang berpadu dengan keterampilan tradisional menjadikan produk-produk ini tetap diminati oleh pasar modern, baik lokal maupun nasional.
Keberhasilan Desa Muntuk dalam mengembangkan industri kerajinan bambu menjadi bukti nyata bahwa ekonomi kreatif dapat menjadi motor penggerak perekonomian desa. Dukungan penuh dari pemerintah daerah serta semangat gotong royong masyarakat menjadi fondasi kuat dalam menjadikan Desa Muntuk sebagai destinasi wisata edukatif berbasis budaya yang berkelanjutan.
Kontributor : Azfa Pabulo, Editor : Agus
Categories
Recent Posts
- Film RUMAH SINGGAH, Tentang Mereka yang Memilih untuk Terus Berjuangย

- Menuju Nol Kematian Dengue 2030, Pakar Tekankan Pentingnya Strategi Terpaduย ย

- Kopi Kenangan Luncurkan Laporan ESG 2025: 100% Bahan Baku Utama Lokal dan Lanjutkan Komitmen Keberlanjutan Lewat Program Barista Hebatย

- Kemen PPPA dan LPSK Bersinergi, Dorong Penanganan Kekerasan Pacaran yang Berpihak pada Korban

- Ekosistem Ekonomi Kreatif Bantul Bahas Review Blueprint Ekonomi Kreatif Tahun 2026

Archive
- Juli 2026
- Juni 2026
- Mei 2026
- April 2026
- Maret 2026
- Februari 2026
- Januari 2026
- Desember 2025
- November 2025
- Oktober 2025
- September 2025
- Agustus 2025
- Juli 2025
- Juni 2025
- Mei 2025
- April 2025
- Maret 2025
- Februari 2025
- Januari 2025
- Desember 2024
- November 2024
- Januari 2024
- Juli 2023
- Maret 2023
- Januari 2023
- Desember 2022
- Oktober 2022
Tags
#Pameran #seni Akhir Lusono Bakpia Jogkem Bangunharjo Bantul BMT buka puasa Desa Caturharjo Desa wisata Dinas Pariwisata Kulon Progo DPS ekonomi kreatif ekosistem ekraf Film Geguritan halal HPN 2025 Iftar Inovasi JAFF Jurnalipreneur.id Jurnalispreneur Jurnalispreneur.id KDMP kolaborasi Kotamas DIY kreatif kriya kuliner Mie lethek museum Pelatihan jurnalis PINBAS MUI DIY PINBUK Ramadan Ramadhan Silaturahmi Tera View Tim Jurnalispreneur.id UGM UMBY Umkm Yogyakarta
Social Links
MITRA JURNALISPRENEUR.ID










Tinggalkan Balasan