Menyigi Kedalaman ‘Seniku Mohon Maaf Lahir & Batin’: Saat Dunadi dan Nasirun Merajut Persatuan Lewat Kanvas dan Patung

BANTUL – Guratan kuas yang ekspresif berpadu apik dengan kokohnya instalasi patung di sudut-sudut Pendhapa Art Space, Sewon, Bantul. Sabtu (20/6/2026), ruang seni yang terletak di Jalan Prof. Dr. Wirjono Projodikoro itu mendadak menjelma menjadi episentrum kehangatan. Di sanalah, pameran seni bertajuk Arundhati “Syawalan Seni Dunadi & Nasirun” resmi dibuka, mengusung sebuah tema yang sarat akan kontemplasi: “Seniku Mohon Maaf Lahir & Batin”.

Pameran yang bakal menyapa publik hingga 20 Agustus 2026 ini bukan sekadar ajang unjuk estetika. Lebih dari itu, ia adalah sebuah ritus silaturahmi, ruang refleksi, dan manifesto persatuan yang dikumandangkan dari jantung kebudayaan Yogyakarta.

Atmosfer kekeluargaan langsung terasa begitu melangkah masuk ke area pameran. Duo pemandu acara, Ni Made Purnama Sari dan Samuel Indratma, berhasil menghidupkan suasana dengan banyolan segar dan interaksi yang karib. Alunan musik dari Keroncong Sanggar Muara yang mendayu-dayu kian menambah syahdu malam pembukaan yang diresmikan langsung oleh aktor Dwi Sasono tersebut.
Di balik kemeriahan itu, sebuah pesan mendalam diletakkan oleh kurator pameran, Kuss Indarto. Dalam sambutannya, Kuss membedah peran krusial seniman yang acap kali dilupakan di era modern: kemampuan untuk “Ngemong dan Ngempong.”

“Seniman harus bisa ngemong dan ngempong. Ngemong berarti membimbing, mengasuh, merawat, dan mendampingi dengan penuh kesabaran serta kasih sayang. Sedangkan ngempong adalah kesediaan untuk memikul tanggung jawab, bekerja keras, dan siap repot demi keberlangsungan sebuah kegiatan atau komunitas,” ujar Kuss di hadapan para hadirin.

Bagi Kuss, Dunadi dan Nasirun adalah potret nyata dari filosofi Jawa tersebut. Keduanya tidak hanya bertindak sebagai pencipta karya di dalam menara gading studio mereka, melainkan juga penggerak, penjaga nilai, sekaligus perekat kehidupan sosial yang menjaga ekosistem seni di Yogyakarta tetap hidup dan bernyawa.

Pembukaan itu seolah menjadi ajang “lebaran” bagi para pelaku dan pencinta seni. Sederet tokoh penting tampak hadir berbaur dengan masyarakat, mulai dari Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Bantul, Kapolsek Sewon, hingga Lurah Panggungharjo. Tak ketinggalan, tokoh-tokoh besar seperti sutradara kawakan Garin Nugroho, kolektor seni legendaris Oei Hong Djien, Mahroji, hingga  Erwin Yuniati turut hadir memberikan apresiasi.
Di antara puluhan karya memikat yang dipajang, ada satu titik yang magnetis dan terus dikerumuni pengunjung: instalasi patung dua proklamator bangsa, Soekarno dan Mohammad Hatta.
Kehadiran patung dwi-tunggal ini seolah memancarkan daya magis di tengah dinamika sosial-politik tanah air yang kerap diwarnai ketidakpastian dan perbedaan pandangan. Patung tersebut berdiri tegak, bukan sekadar untuk mengenang sejarah, melainkan sebagai tamparan halus sekaligus pengingat moral agar masyarakat kembali merawat tenun persatuan dan kebersamaan.

Melalui pameran Arundhati ini, Dunadi dan Nasirun berhasil mendefinisikan ulang fungsi seni. Di tangan mereka, seni bertransformasi menjadi medium dialog yang cair dan ruang rekonsiliasi sosial.
Tema “Seniku Mohon Maaf Lahir & Batin” menjadi jembatan bagi setiap apresiator untuk menundukkan kepala, merenung, dan saling melapangkan dada. Karya-karya yang dipamerkan seolah berbisik, mengajak masyarakat untuk kembali meneguhkan semangat gotong royong dan memperkuat persatuan sebagai fondasi utama kehidupan berbangsa.
Pada akhirnya, Pendhapa Art Space selama dua bulan ke depan bukan sekadar galeri dinding putih yang kaku. Ia telah menjelma menjadi ruang perjumpaan lintas generasi, sebuah oase yang membuktikan bahwa ketika politik memecah belah, senilah yang datang menjahit kembali serpihan-serpihan perbedaan itu dengan benang-benang harapan.(JP_3)

Kontributor : Azfa Pabulo

Editor : Agus Susanto


MITRA JURNALISPRENEUR.ID