Malam 1 Suro di Dusun Druwo: Merawat Nyala Spirit Kyai Padang Lewat Doa dan Kirab Pusaka

BANTUL, 16 Juni 2026ย โ€“ Guratan malam di Dusun Druwo, Kalurahan Bangunharjo, Kapanewon Sewon, Kabupaten Bantul, mendadak senyap oleh kekhidmatan pada Senin malam (15/6/2026). Di tengah keheningan menyambut pergantian tahun baru Jawa atau Malam 1 Suro, aroma dupa dan lantunan doa membubung tinggi dari area makam Kyai Padang. Di sinilah, warga berkumpul, bukan sekadar untuk menjalani ritual tahunan, melainkan untuk menenun kembali benang sejarah dan melintasi ruang waktu guna mengenang jasa sang leluhur.

Kyai Padang bukanlah nama yang asing bagi masyarakat setempat. Beliau diyakini sebagai salah satu pangeran dari Kerajaan Majapahit yang melangkahkan kaki ke tanah sungsang ini dan menjadi cikal bakal berdirinya Padukuhan Druwo. Ribuan hari telah berlalu, namun memori kolektif akan perjuangannya tetap hidup. Peringatan Malam 1 Suro pun bertransformasi menjadi momentum sakral; sebuah jembatan batin bagi warga untuk melangitkan syukur atas berkah kehidupan sekaligus menghormati akar sejarah mereka sendiri.

Sinergi Pemerintah dan Warga Akar Rumput

Suasana penuh kebersamaan begitu lekat terasa. Duduk bersila di antara warga, tampak Lurah Bangunharjo, Nur Hidayat, S.Ag., M.S.I., didampingi jajaran pamong kalurahan seperti Kamituwo dan Ulu-Ulu Bangunharjo. Hadir pula Dukuh Druwo, para pinisepuh, tokoh agama, serta barisan pemuda-pemudi yang khusyuk mengikuti jalannya prosesi dari awal hingga pungkasan.

Dalam untaian sambutannya yang menyentuh, Nur Hidayat menekankan bahwa tradisi yang diwariskan oleh para leluhur adalah jangkar identitas di tengah derasnya arus modernisasi.

“Warisan budaya dan sejarah ini adalah jati diri kita. Tugas kita bersama, terutama mengenalkannya kepada generasi muda, agar nilai-nilai luhur ini tidak tergerus dan hilang ditelan zaman,” tutur Lurah Bangunharjo dengan nada penuh harap.

Estafet Budaya dalam Sepotong Tumpeng

Kekhidmatan acara memuncak saat doa bersama usai dilantunkan. Di bawah temaram lampu, Nur Hidayat memotong puncak tumpeng nasi kuning yang menjadi simbol rasa syukur dan kemakmuran. Menariknya, potongan tumpeng pertama itu tidak diserahkan kepada sesepuh, melainkan disodorkan langsung kepada Ketua Pemuda Dusun Druwo, Septa.

Gestur sederhana ini menyimpan makna simbolis yang mendalam: sebuah penyerahan estafet tanggung jawab. Lewat tumpeng tersebut, para orang tua menitipkan harapan besar agar pundak generasi muda Druwo bersedia bergerak aktif menjaga, melestarikan, dan mengembangkan kekayaan budaya tanah kelahiran mereka.

Kirab Tombak Kyai Padang Membelah Malam

Suasana mistis sekaligus agung kian menyelimuti padukuhan ketika prosesi beralih ke pelataran. Warga mulai berbaris, menyalakan obor, dan bersiap mengarak pusaka paling dihormati di dusun tersebut: Tombak Kyai Padang.

Pusaka yang menjadi simbol sejarah dan personifikasi perjuangan sang leluhur itu dikirab keliling membelah jalanan Padukuhan Druwo. Langkah kaki warga yang beriringan dalam diam, diselingi bisik doa, menjadi wujud nyata dari runtuhnya sekat antarwarga. Kirab ini bukan lagi sekadar tontonan budaya, melainkan sarana magis yang mempererat tali gotong royong dan kebersamaan vertikal maupun horizontal.

Malam kian larut ketika kirab berakhir, namun asa baru justru baru saja dimulai. Melalui ritual Malam 1 Suro ini, masyarakat Dusun Druwo telah membuktikan bahwa di tengah kepungan dunia modern, nilai kearifan lokal dan semangat persatuan dari masa lalu akan tetap hidup, berdegup kencang di dada setiap generasi penerusnya.(JP_3)

 

Kontributor : Azfa Pabulo

Editor : Agus Susanto

Fotografer : Tim Media Druwo Generation


MITRA JURNALISPRENEUR.ID