Keranjang Anda kosong!

(Jurnalispreneur.id, Yogyakarta) – Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya sumber daya alam, budaya, dan potensi ekonomi. Namun, dua masalah besar terus menghantui negeri ini: maraknya korupsi dan seringnya terjadi musibah alam. Sekilas, kedua hal ini tampak tidak berhubungan, tetapi jika ditelaah lebih dalam, ada benang merah yang menghubungkannya: lemahnya sistem, rendahnya kesadaran kolektif, dan buruknya tata kelola lingkungan.
Korupsi di Indonesia sudah mengakar dari level bawah hingga atas. Beberapa faktor utama yang menyebabkan korupsi begitu marak antara lain:
- Budaya Feodalisme dan Nepotisme, banyak pejabat atau pengusaha yang lebih mementingkan kelompoknya dibandingkan kepentingan rakyat. Jabatan publik sering kali dianggap sebagai “ladang keuntungan” pribadi, bukan amanah untuk melayani masyarakat.
- Lemahnya Penegakan Hukum, hukuman bagi koruptor sering kali tidak memberikan efek jera. Bandingkan dengan negara lain seperti China yang memberlakukan hukuman berat bagi koruptor. Di Indonesia, banyak koruptor yang setelah ditangkap masih bisa hidup nyaman.
- Sistem Politik yang Mahal, biaya politik yang tinggi mendorong pejabat mencari “balik modal” setelah terpilih. Hal ini menciptakan lingkaran setan di mana politikus terpaksa mencari cara ilegal untuk mengamankan kekuasaannya.
- Kurangnya Kesadaran Publik, banyak masyarakat yang masih permisif terhadap korupsi, entah karena sudah terbiasa atau tidak melihat dampak langsungnya dalam kehidupan mereka.

Indonesia memang berada di kawasan Cincin Api Pasifik, sehingga rentan terhadap gempa, tsunami, dan letusan gunung berapi. Namun, banyak musibah alam yang terjadi bukan sekadar faktor alam, tetapi akibat ulah manusia sendiri.
- Eksploitasi Sumber Daya Alam, pembalakan liar, tambang ilegal, dan alih fungsi lahan secara serampangan menyebabkan tanah menjadi tidak stabil, memicu longsor dan banjir.
- Perubahan Iklim dan Pemanasan Global, penggunaan bahan bakar fosil yang berlebihan dan kurangnya kesadaran untuk menjaga lingkungan mempercepat pemanasan global, yang berdampak pada perubahan cuaca ekstrem dan meningkatnya frekuensi bencana alam.
- Pembangunan yang Tidak Berorientasi Lingkungan, banyak proyek pembangunan dilakukan tanpa mempertimbangkan analisis dampak lingkungan. Akibatnya, daerah resapan air berkurang, sungai menjadi dangkal karena sedimentasi, dan kota-kota besar semakin rentan terhadap banjir.
Korupsi dan bencana alam di Indonesia sering kali berkaitan erat. Banyak proyek infrastruktur yang dibangun dengan material di bawah standar karena adanya praktik suap atau mark-up anggaran, yang akhirnya menyebabkan bangunan mudah rusak saat terjadi bencana. Selain itu, izin usaha tambang atau perkebunan sering diberikan tanpa memperhatikan aspek lingkungan, menyebabkan deforestasi yang memperparah bencana seperti banjir dan longsor.
Solusinya yaitu Reformasi Sistem dan Peningkatan Kesadaran :
- Penegakan hukum yang lebih tegas terhadap koruptor dan pelaku perusakan lingkungan.
- Edukasi publik untuk meningkatkan kesadaran akan dampak korupsi dan pentingnya menjaga lingkungan.
- Reformasi birokrasi agar lebih transparan dan akuntabel.
- Mendorong pembangunan berkelanjutan yang ramah lingkungan.
Jika Indonesia ingin keluar dari jerat korupsi dan bencana alam yang semakin parah, maka perubahan harus dimulai dari diri sendiri, sistem yang lebih baik, dan kepemimpinan yang berintegritas. Tanpa itu, sejarah buruk ini hanya akan terus berulang.
Oleh: Azfa Mutiara Ahmad Pabulo (Mahasiswa S3 UIN Sunan Kalijaga)
Categories
Recent Posts
- Pelaku UMKM, Koperasi, dan Perusahaan Didorong Tertib Pajak, SPT Tahunan PPh Badan Batas Akhir 30 April

- Sambut Tahun Baru, Swara Prambanan Gelar Festival Musik dan Budaya
- KWT Melati Kembangkan Inovasi Olahan Cabai Lokal Berbasis Pemberdayaan Perempuan

- Jogja: Lebih dari Sekadar Kota, Sebuah Filosofi Hidup

- Nikayu Hadirkan Produk Kerajinan Kayu Estetis dan Fungsional dari Bangunharjo

Archive
Tags
Akhir Lusono Al-Qurโan Bakpia Jogkem bakso Bangunharjo BMT Desa wisata Dinas Pariwisata Kulon Progo DPS ekosistem ekraf Erik Hidayat Festival Film Film Geguritan halal HPN 2025 IKAPRIM Inkubator Bisnis UMBY Inovasi INTANI JAFF Jurnalipreneur.id Jurnalispreneur Jurnalispreneur.id kolaborasi Kotamas DIY kreatif kuliner organik Pasar Ngasem Pelatihan jurnalis pendampingan PINBAS MUI DIY PINBUK Ramadan Ramadhan Silaturahmi Tera View Tim Jurnalispreneur.id UGM UMBY Umkm Wirausaha Yogyakarta
Social Links
MITRA JURNALISPRENEUR.ID










Tinggalkan Balasan