Keranjang Anda kosong!

(Yogyakarta, Jurnalispreneur.id) – Dina Febrina (Tan Gin Hwa) perempuan kelahiran bulan Februari, telah membangun karier yang gemilang di dunia penyiaran selama lebih dari dua dekade. Sebagai seorang MC, host, dan presenter, ia dikenal memiliki keahlian dalam menyampaikan informasi dan menghibur audiens dengan cara yang sangat memikat. Dina adalah anak pertama dari tiga bersaudara, putri dari pasangan ibu (Almh) Tan Lien Nio dan ayah (Alm) Tan Siong Djang.
Dalam kehidupannya, Dina berupaya selalu menjaga nilai-nilai leluhur keluarga, dengan membawa nama marga keturunan Tionghoa Tan (baca: Chen) sebagai bagian dari identitas dirinya.
“Saya memulai perjalanan kariernya sebagai penyiar di Radio Suara Istana AM selama 8 tahun,” ujar Dina Febrina saat mulai ngobrol santai dengan Jurnalispreneur.id, Rabu siang (15/1/2025) via telepon.
Ia memulai menunjukkan bakat dan dedikasinya di dunia broadcasting saat itu. “Lalu, saya melanjutkan di Radio EMC FM selama 7 tahun, dan kemudian menghabiskan satu tahun di Radio Sonora FM Jogja,” ucapnya.

Ia menambahkan bahwa, dengan menjadi penyiar di radio-radio tersebut, membuat semakin memperkaya pengalaman dan jangkauannya dalam dunia radio.
Karier Dina semakin meningkat ketika ia menjadi Host di RRI Yogyakarta selama 14 tahun sampai saat ini. “Sebagai host di RRI, saya harus profesional dalam memandu berbagai program acara, seperti “Obrolan Komunitas”, “Penyejuk Agama”, serta program-program musik Indonesia atau mancanegara yang disukai oleh banyak pendengar,” tuturnya.
Tak hanya berkiprah di radio, Dina juga berkontribusi besar di dunia penyiaran televisi. Selama 13 tahun, ia menjadi penyiar khusus untuk program agama Pijar Buddha di TVRI Yogyakarta, sebuah peran yang sangat berarti bagi komunitas Buddhis di Yogyakarta. Dedikasinya dalam mengedukasi masyarakat mengenai ajaran Buddha menjadikannya sebagai salah satu suara yang dihormati di dunia media.
Dina juga sangat aktif dalam organisasi sosial, khususnya di organisasi Perempuan Buddhis yang bertujuan untuk memberdayakan perempuan dan memperjuangkan hak-hak mereka. “Salah satu peran penting yang saya emban adalah memandu acara pada Peringatan Hari Raya Waisak di Candi Borobudur, sebuah acara yang tidak hanya merayakan Hari Raya Waisak, tetapi juga menjadi simbol keberagaman dan kedamaian,” ungkap Dina.
Ia mampu menghadirkan suasana acara yang khidmat dan bermakna bagi semua yang hadir.
Kini, Dina Febrina tidak hanya dikenal sebagai seorang penyiar dan host berpengalaman, tetapi juga sebagai seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) P3K di RRI Yogyakarta. Meski sudah mengabdi selama bertahun-tahun, ia tetap aktif sebagai penyiar di berbagai acara seperti “Obrolan Komunitas”, “Penyejuk Iman Buddha”, dan program-program musik yang selalu menarik perhatian pendengar.

Sebagai seorang yang beragama Buddha, Dina juga merasa penting untuk berbagi cerita dan pengalaman mengenai tradisi dan budaya yang ia anut. Salah satu momen spesial yang sering dibagikan adalah tentang perayaan Imlek, sebuah perayaan yang memiliki makna penting dalam kehidupan masyarakat Tionghoa, terutama dalam merayakan tahun baru dengan penuh harapan dan kebahagiaan.
Dina menjelaskan bahwa Imlek adalah momen untuk berkumpul dengan keluarga. “Dimana saling berbagi kebahagiaan, serta mendoakan yang terbaik bagi kehidupan di tahun yang baru,” imbuhnya.

Dina Febrina adalah contoh nyata dari seorang profesional yang tidak hanya unggul dalam bidangnya, tetapi juga memberikan dampak positif bagi masyarakat.
Dedikasi dan komitmennya untuk terus berkembang, baik dalam dunia penyiaran maupun dalam aktivitas sosial, menjadikannya sosok yang bisa dicontoh oleh banyak orang.
“Imlek atau Xin Jia masih menjadi tradisi turun temurun yang dinanti. Saat itu, anggota keluarga yang bekerja di luar kota bahkan luar negeri akan mudik untuk merayakan Imlek. Mudik dilakukan pada kakek/nenek atau orang tua, jika sudah meninggal, maka tempat yang disepakati untuk berkumpul nantinya,” ucapnya lagi.
Malam Imlek atau 28 Januari 2025 yang akan datang, menjadi saat makan malam bersama dan saling mengenal saudara, anak cucu dan handai taulan. “Esok harinya, saatnya tiba untuk kita mendoakan pada leluhur dan berterima kasih atas kebaikan mereka. Saat ini, menjadi momen yang tepat mengajarkan pada balita dan anak budi pekerti, menghormat pada leluhur dan orang tua,” pungkas Dina Febrina. (Ags)
Categories
Recent Posts
- Pelaku UMKM, Koperasi, dan Perusahaan Didorong Tertib Pajak, SPT Tahunan PPh Badan Batas Akhir 30 April

- Sambut Tahun Baru, Swara Prambanan Gelar Festival Musik dan Budaya
- KWT Melati Kembangkan Inovasi Olahan Cabai Lokal Berbasis Pemberdayaan Perempuan

- Jogja: Lebih dari Sekadar Kota, Sebuah Filosofi Hidup

- Nikayu Hadirkan Produk Kerajinan Kayu Estetis dan Fungsional dari Bangunharjo

Archive
Tags
Akhir Lusono Al-Qurโan Bakpia Jogkem bakso Bangunharjo BMT Desa wisata Dinas Pariwisata Kulon Progo DPS ekosistem ekraf Erik Hidayat Festival Film Film Geguritan halal HPN 2025 IKAPRIM Inkubator Bisnis UMBY Inovasi INTANI JAFF Jurnalipreneur.id Jurnalispreneur Jurnalispreneur.id kolaborasi Kotamas DIY kreatif kuliner organik Pasar Ngasem Pelatihan jurnalis pendampingan PINBAS MUI DIY PINBUK Ramadan Ramadhan Silaturahmi Tera View Tim Jurnalispreneur.id UGM UMBY Umkm Wirausaha Yogyakarta
Social Links
MITRA JURNALISPRENEUR.ID










Tinggalkan Balasan