Dari Meja Rangga dan Cinta, Tumbuh Semangat Membangun Ekosistem Kopi Nusantara

Jurnalispreneur.id_Yogyakarta. Di sudut Jalan Gerilya Nomor 822 atau yang lebih dikenal sebagai Jalan Prawirotaman II, Yogyakarta, berdiri sebuah kedai kopi yang menyimpan cerita istimewa. Sellie Coffee bukan hanya dikenal sebagai tempat menikmati secangkir kopi, tetapi juga menjadi bagian dari sejarah perfilman Indonesia. Kedai ini menjadi salah satu lokasi pertemuan Rangga dan Cinta dalam film “Ada Apa Dengan Cinta 2”, tempat keduanya mencoba menyelesaikan masa lalu setelah sekian lama berpisah.

Namun, di balik romantisme kisah tersebut, Sellie Coffee kini menghadirkan cerita baru. Dari meja-meja yang pernah menjadi saksi dialog Rangga dan Cinta, tumbuh semangat kolaborasi untuk membangun ekosistem kopi Nusantara yang lebih kuat dan berkelanjutan.

Semangat itu digerakkan oleh Wisnu Birowo bersama Komunitas Kopi Nusantara yang menjadikan Sellie Coffee sebagai salah satu ruang pertemuan para pegiat kopi dari berbagai daerah. Melalui jejaring yang membentang dari Sumatera, Jawa,Kalimantan, Bali Nusa, hingga Sulampua (Sulawesi, Maluku, dan Papua), komunitas ini berupaya mempertemukan petani, roaster, barista, pelaku usaha, akademisi, hingga pecinta kopi dalam satu ekosistem yang saling menguatkan.

Saat ditemui Tim Jurnalispreneur.id Wisnu Birowo menyampaikan bahwa Indonesia memiliki kekayaan kopi yang luar biasa, baik dari sisi varietas, cita rasa, maupun budaya yang menyertainya. Tantangan terbesar bukan pada kualitas kopi semata, tetapi bagaimana membangun kolaborasi yang mampu memperkuat rantai nilai kopi dari hulu hingga hilir.

Untuk mewujudkan hal tersebut, Komunitas Kopi Nusantara secara konsisten menyelenggarakan berbagai kegiatan yang bertujuan memperluas jejaring sekaligus meningkatkan kapasitas para pelaku kopi.

Salah satunya melalui Festival dan Pameran Kopi, yang menjadi ruang publik untuk memperkenalkan keberagaman cita rasa kopi Nusantara. Dalam kegiatan ini, masyarakat dapat mengenal lebih dekat karakter kopi dari berbagai daerah, mulai dari kopi Gayo di Aceh, kopi Temanggung di Jawa Tengah, kopi Kintamani di Bali, hingga kopi Toraja dan Papua yang memiliki keunikan tersendiri.

Komunitas ini juga aktif menggelar Workshop dan Pelatihan atau Kelas Kopi, yang mencakup berbagai materi seperti Sensory Dasar, Barista dan Hospitality, Latte Art, Brewers, hingga Roastery. Kelas-kelas tersebut menghadirkan instruktur dan praktisi berpengalaman baik dari tingkat nasional maupun internasional sehingga mampu meningkatkan kompetensi sumber daya manusia di sektor kopi.

Di sektor hulu, perhatian diberikan melalui program Edukasi Petani dan Penggiat Kopi. Program ini membekali petani dengan pengetahuan mengenai teknik budidaya yang baik, mulai dari penanaman, pemanenan, hingga proses pascapanen seperti penjemuran dan pengolahan biji kopi agar menghasilkan kualitas terbaik yang mampu bersaing di pasar nasional maupun internasional.

Sementara itu, melalui program Ekspedisi dan Distribusi Kopi Nusantara, Wisnu Birowo dan jaringan Komunitas Kopi Nusantara menjelajahi berbagai kota untuk memperkenalkan kopi lokal, memperluas rantai pasok (supply chain), serta mempererat silaturahmi antar pegiat kopi di seluruh Indonesia. Kegiatan ini menjadi jembatan yang menghubungkan produsen kopi di daerah dengan pasar yang lebih luas, sekaligus memperkuat identitas kopi Indonesia di tengah persaingan global.

Bagi Komunitas Kopi Nusantara, kopi bukan sekadar minuman. Kopi adalah cerita tentang petani yang merawat pohon dengan penuh kesabaran, tentang para pengolah yang menjaga kualitas, tentang barista yang menyajikan cita rasa terbaik, dan tentang komunitas yang terus merawat persaudaraan.(JP_3)


MITRA JURNALISPRENEUR.ID