Keranjang Anda kosong!

(Yogyakarta, jurnalispreneur.id) โ Dalam rangka menghadiri acara Forum Grup Diskusi (FGD) yang diselenggarakan oleh MM UAD di Jalan Pramuka Umbulharjo Yogyakarta pada Sabtu, 01 Februari 2025, di Jalan Pramuka Umbulharjo Yogyakarta yang dihadiri juga oleh dosen, mahasiswa dan alumni MM UAD, serta lembaga pengguna alumni MM UAD, wakil KADIN DIY, Wawan Harmawan sempat dialog dengan Kak Juma dari koran online UMKM Jogja untuk Indonesia.

Saat ditanya tentang satu kampung satu akademisi (dosen / mahasiswa/ alumni) mendampingi kegiatan usaha kampung wisata di setiap kampung se kota Yogyakarta beliau mengatakan sangat mendukung jika itu terwujud nyata di 169 kampung se kota Yogyakarta.

Wawan Hermawan, lebih lanjut mengatakan bahwa hal itu perlu dilakukan agar ada terobosan demi terobosan maju, unik, beda untuk branding tiap kampung yang ada yang siap warganya kelola kampung nya menuju kampung wisata yang beda dan positif, misalnya satu kampung satu akademisi (pendidikan), satu kampung satu bidan (kesehatan), satu kampung satu pendamping usaha (ekonomi bisnis), satu kampung satu pendamping budaya, termasuk satu kampung satu jurnalis preneur.

Wawan Harmawan yang didampingi oleh Prof Amin dari Dir. MM UGM dan Dr. Fitroh Adhilla, selaku kaprodi MM UAD, menyampaikan dukungannya terhadap program Satu Kampung Satu Akademisi dalam dialog di acara Focus Group Discussion (FGD) MM UAD Yogyakarta baru baru ini. Program seperti ini diharapkan menjadi motor penggerak bagi pengembangan kampung wisata di 169 kampung se-Kota Yogyakarta.
Lebih lanjut, Wawan Hermawan menegaskan bahwa program Satu Kampung Satu Akademisi bertujuan untuk menempatkan akademisiโbaik dosen maupun mahasiswa dan alumninyaโsebagai pendamping kampung wisata di setiap kampung di Yogyakarta. Program ini perlu segera diinisiasi untuk mempercepat pengembangan potensi lokal dan meningkatkan daya saing kampung wisata yang ada selama dan berkelanjutan.
Dr. Fitroh Adhilla selaku kaprodi MM UAD sangat mendukung ide dari wakil KADIN DIY itu yaitu program ini sangat mungkin diterapkan di 169 kampung se-Kota Yogyakarta yang memiliki potensi wisata dan memerlukan pendampingan akademisi untuk pengelolaan dan pengembangannya. Sebab disamping sebagai kota wisata, Yogyakarta juga terkenal sebagai kota pendidikan dan kota budaya. Kami siap mendukung ide Pak Wawan Hermawan tersebut bersama dosen, mahasiswa dan alumni MM UAD yang sudah disiapkan.
Selain program tersebut, juga turut ditanyakan oleh Kak Juma dari koran online UMKM Jogja untuk Indonesia yang juga alumni MM UAD bahwa Satu Kampung Satu Jurnalispreneur, juga perlu dipertimbangkan untuk mendorong publikasi dan pemasaran digital bagi kampung wisata yang selalu dilakukan oleh warga kampung sendiri sebagai pewarta berita kampung wisata yang aktif.
Program ini bisa dimulai pada tahun 2025, dengan harapan segera memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan pengelola kampung wisata di 169 kampung se kota Yogyakarta.
Program ini selain didukung oleh KADIN DIY juga perlu didukung oleh pihak lain seperti helix ABCGFM (Akademisi, Businessmen, Community, Government, Financial institution, Media).
Menurut Wawan Harmawan, pendampingan akademisi dan jurnalis preneur di setiap kampung wisata sangat penting karena: (1)Meningkatkan inovasi dalam pengelolaan kampung wisata. (2)Membantu pengembangan SDM melalui edukasi dan pelatihan. (3)Meningkatkan daya saing ekonomi kampung wisata, terutama dalam pemasaran dan manajemen bisnis berbasis digital.
Implementasi program ini dapat dirancang melalui tahapan: (1)Pemetaan kebutuhan kampung wisata berdasarkan potensi dan tantangan masing-masing. (2)Penugasan akademisi dan jurnalis preneur pendamping (dosen dan mahasiswa serta alumni) ke kampung- kampung yang membutuhkan dan siap dahulu secara bertahap sebagai modelnya diawal. (3)Kolaborasi dengan KADIN DIY dan pelaku usaha lokal untuk penguatan ekonomi berbasis UMKM dan pariwisata. (4)Pendampingan berkelanjutan dengan monitoring dan evaluasi secara berkala bersama para pihak terkait minimal helix ABCGFM kota Yogyakarta.
Ke depan, program ini diharapkan dapat diperluas dengan keterlibatan lebih banyak perguruan tinggi dan stakeholder lainnya (ABCGFM). Dengan dukungan berbagai pihak, inisiatif ini diyakini mampu menjadikan Yogyakarta sebagai model pengembangan kampung wisata berbasis akademik dan ekonomi kreatif serta jurnalis preneur yang berkelanjutan.
Wawan Harmawan berharap program Satu Kampung Satu Akademisi dan jurnalis preneur dapat berjalan efektif dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. โDengan sinergi antara dunia usaha, akademisi, jurnalis preneur dan masyarakat, kita bisa menciptakan kampung wisata yang mandiri dan unggul berkelanjutanโ ujarnya.ย (**)
Categories
Recent Posts
- Pelaku UMKM, Koperasi, dan Perusahaan Didorong Tertib Pajak, SPT Tahunan PPh Badan Batas Akhir 30 April

- Sambut Tahun Baru, Swara Prambanan Gelar Festival Musik dan Budaya
- KWT Melati Kembangkan Inovasi Olahan Cabai Lokal Berbasis Pemberdayaan Perempuan

- Jogja: Lebih dari Sekadar Kota, Sebuah Filosofi Hidup

- Nikayu Hadirkan Produk Kerajinan Kayu Estetis dan Fungsional dari Bangunharjo

Archive
Tags
Akhir Lusono Al-Qurโan Bakpia Jogkem bakso Bangunharjo BMT Desa wisata Dinas Pariwisata Kulon Progo DPS ekosistem ekraf Erik Hidayat Festival Film Film Geguritan halal HPN 2025 IKAPRIM Inkubator Bisnis UMBY Inovasi INTANI JAFF Jurnalipreneur.id Jurnalispreneur Jurnalispreneur.id kolaborasi Kotamas DIY kreatif kuliner organik Pasar Ngasem Pelatihan jurnalis pendampingan PINBAS MUI DIY PINBUK Ramadan Ramadhan Silaturahmi Tera View Tim Jurnalispreneur.id UGM UMBY Umkm Wirausaha Yogyakarta
Social Links
MITRA JURNALISPRENEUR.ID










Tinggalkan Balasan