Bukit Songo Papat: Merawat Ingatan Tragedi Merapi 1994, Menyusuri Sejarah, dan Mengembangkan Potensi Desa Hargobinangun

Jurnalispreneur.id_Sleman โ€” Di tengah bentang alam lereng Gunung Merapi yang menyimpan keindahan sekaligus jejak bencana, Bukit Songo Papat hadir sebagai salah satu titik yang menyimpan cerita sejarah masyarakat setempat. Nama Songo Papat, yang merujuk pada angka 94 dalam penamaan lokal ini, mengingatkan pada tahun 1994, ketika awan panas Gunung Merapi atau yang dikenal masyarakat dengan sebutan wedhus gembel meluncur dan menimbulkan tragedi di kawasan lereng selatan.
Peristiwa pada 22 November 1994 menjadi salah satu babak kelam dalam sejarah erupsi Merapi. Awan panas menerjang kawasan permukiman dan menimbulkan korban jiwa. Peristiwa tersebut meninggalkan luka sekaligus ingatan kolektif bagi masyarakat yang hidup berdampingan dengan gunung api aktif ini. Bagi masyarakat Hargobinangun, Merapi bukan sekadar gunung yang membentuk lanskap kehidupan. Merapi juga menjadi bagian dari sejarah, kebudayaan, sumber penghidupan, dan perjalanan masyarakat dalam membangun ketangguhan menghadapi bencana.

Selasa Kliwon: Ketika Persiapan Pernikahan Berpadu dengan Tragedi
Di balik catatan mengenai letusan dan awan panas, tersimpan kisah kehidupan warga yang memberikan dimensi kemanusiaan pada sejarah Merapi. Salah satunya adalah cerita mengenai persiapan pernikahan warga setempat pada hari yang dikenang sebagai Selasa Kliwon.
Ulu-Ulu Kalurahan Hargobinangun, Bapak Suhadi Wiyana, menuturkan bahwa pada hari tersebut terdapat warga yang sedang mempersiapkan pernikahan. Persiapan yang semestinya menjadi bagian dari kebahagiaan keluarga dan masyarakat itu menjadi bagian dari ingatan warga tentang peristiwa besar yang terjadi di lereng Merapi.
Kisah ini memperlihatkan bagaimana bencana tidak hanya tercatat melalui besarnya letusan, arah luncuran awan panas, atau jumlah korban. Di balik peristiwa tersebut, ada kehidupan masyarakat yang sedang berlangsung: keluarga yang bersiap menyelenggarakan hajatan, warga yang menjalankan aktivitas sehari-hari, serta harapan yang mendadak berhadapan dengan ancaman alam. Penuturan Bapak Suhadi Wiyana menjadi pengingat bahwa sejarah lokal tidak hanya dibangun dari dokumen dan catatan resmi, tetapi juga dari kesaksian masyarakat yang menyimpan cerita lintas generasi.

Songo Papat: Nama yang Menyimpan Ingatan Kolektif
Nama Bukit Songo Papat memiliki makna yang melampaui identitas geografis. Angka 94 menjadi pengingat tahun 1994, ketika erupsi Merapi dan awan panas membawa dampak besar bagi kehidupan masyarakat di lereng selatan.
Nama tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan sejarah lokal kepada generasi muda maupun pengunjung yang ingin mengenal Merapi lebih dekat. Melalui cerita warga, dokumentasi sejarah, dan informasi kebencanaan, Bukit Songo Papat berpotensi dikembangkan sebagai ruang pembelajaran mengenai hubungan manusia dengan alam.
Pengembangan itu perlu berangkat dari penghormatan terhadap pengalaman para penyintas dan keluarga terdampak. Tragedi tidak semata-mata dijadikan daya tarik wisata, melainkan dihadirkan sebagai sumber pembelajaran tentang kesiapsiagaan, solidaritas sosial, dan pentingnya memahami risiko bencana.
Dari Sejarah Lokal Menuju Pengembangan Potensi Desa
Kunjungan ke Bukit Songo Papat merupakan bagian dari kegiatan survei Narasi Desa dalam mengembangkan potensi dairy di Kawasan Merapi, dengan Kalurahan Hargobinangun sebagai lokus kegiatan. Survei ini menjadi bagian dari upaya memahami potensi wilayah secara lebih menyeluruh, mulai dari sumber daya alam, sejarah lokal, kehidupan masyarakat, hingga peluang pengembangan ekonomi berbasis desa. Dalam konteks tersebut, Bukit Songo Papat memperlihatkan bahwa pengembangan potensi kawasan Merapi tidak hanya bertumpu pada produk dan aktivitas ekonomi, tetapi juga pada kekayaan cerita yang membentuk identitas lokal.
Potensi dairy di Hargobinangun dapat dikembangkan melalui keterhubungan antara peternakan sapi perah, produksi susu, pengolahan produk turunan, pemasaran, dan pengalaman wisata. Susu lokal tidak hanya berpotensi menjadi komoditas ekonomi, tetapi juga dapat diperkenalkan sebagai bagian dari pengalaman wisata edukatif yang menghubungkan pengunjung dengan kehidupan peternak dan keseharian masyarakat desa.
Dalam kerangka tersebut, sejarah dan lanskap Bukit Songo Papat dapat menjadi salah satu unsur pendukung narasi kawasan. Pengembangan wisata dairy, wisata alam, edukasi pertanian-peternakan, serta pengenalan sejarah Merapi dapat dirancang sebagai pengalaman yang saling melengkapi, dengan tetap memperhatikan keselamatan, daya dukung lingkungan, dan karakter masyarakat setempat.
Merawat Sejarah, Menghidupkan Ekonomi Lokal
Ke depan, pengembangan Bukit Songo Papat dapat diarahkan pada penguatan informasi sejarah, penataan narasi lokal, dokumentasi kesaksian warga, dan edukasi kebencanaan. Inisiatif tersebut perlu melibatkan pemerintah kalurahan, masyarakat, pengelola destinasi, tokoh lokal, serta pihak terkait dalam memastikan bahwa cerita yang disampaikan akurat dan bermakna.
Identitas pengelola bukit dan rencana pengembangan destinasi juga perlu dipetakan lebih lanjut melalui komunikasi dengan pemerintah kalurahan dan masyarakat setempat. Dengan demikian, pengembangan kawasan dapat berjalan berdasarkan kesepakatan warga dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Bagi Kalurahan Hargobinangun, upaya ini membuka peluang untuk merangkai sejarah, budaya, alam, peternakan, dan ekonomi lokal ke dalam satu narasi pengembangan desa. Bukit Songo Papat dapat menjadi bagian dari perjalanan tersebut, bukan sekadar tempat untuk menikmati pemandangan, tetapi juga ruang untuk mengenal sejarah dan belajar dari pengalaman masyarakat.
Bukit Songo Papat mengingatkan kita bahwa di balik keindahan Merapi tersimpan sejarah yang perlu dirawat. Dari ingatan tragedi 1994 hingga potensi dairy dan wisata edukasi hari ini, Hargobinangun memiliki peluang untuk membangun masa depan desa dengan tetap menghormati cerita, kehidupan, dan ketangguhan masyarakatnya.
Melalui survei Narasi Desa, upaya mengenali potensi Hargobinangun diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk mengembangkan ekonomi lokal yang berakar pada kekuatan wilayah, memperkuat identitas desa, dan menghadirkan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat di kawasan Merapi. (JP_3)


MITRA JURNALISPRENEUR.ID