Kopi lokal di Lembah Progo ; “Semangat pertanian sirkular bernilai ekonomi dan menjaga ekosistem lahan”

Jurnalispreneur.id_Kulonprogo. Suasana hangat terasa di rumah Pak Karjo yang berada di Grubug, Jati Sarono, Nanggulan, Kulonprogo, saat Tim Jurnalispreneur mengunjunginya di tengah aktivitas pertanian yang masih berjalan alami dan sederhana. Di halaman rumahnya tampak bibit cabai jawa (long pepper) tertata rapi, sementara biji kopi hasil panen dijemur memanfaatkan sinar matahari pagi. Dari tempat inilah semangat pertanian sirkular mulai tumbuh dan berkembang.

Pak Karjo menceritakan bahwa pada awalnya lahan yang ia kelola hanya ditanami pisang dan singkong karet sebagai tanaman utama. Kedua tanaman tersebut menjadi sumber penghidupan awal sekaligus penutup lahan agar tetap produktif. Namun seiring waktu, ia mulai mencoba menambahkan berbagai tanaman bernilai ekonomi lain seperti kopi lokal, merica, dan cabai jawa atau long pepper.

Menurutnya, pola tanam campuran tersebut bukan hanya untuk menambah hasil panen, tetapi juga menjaga keseimbangan alam di kebun. Tanaman-tanaman tersebut tumbuh berdampingan secara alami dan saling mendukung dalam menjaga kelembaban tanah serta kesuburan lingkungan sekitar.

Konsep pertanian yang diterapkan Pak Karjo dilakukan dengan cara sederhana dan memanfaatkan bahan-bahan yang tersedia di sekitar kebun. Ia menggunakan mulsa organik dari daun kering, ranting, dan sisa kayu lapuk untuk menjaga tanah tetap lembab sekaligus mengurangi gulma. Tidak hanya itu, kayu-kayu kering yang sebelumnya dianggap limbah juga diolah kembali menjadi pupuk organik sehingga menciptakan sistem pertanian sirkular yang minim limbah.

“Yang penting tanah tetap hidup dan tanaman bisa tumbuh alami,” ungkap Pak Karjo sambil menunjukkan area kebunnya.

Setelah berbincang di rumah, kegiatan dilanjutkan menuju kebun kopi yang berada tidak jauh dari permukiman. Di samping Kali Progo atau lembah progo diantara sela-sela pepohonan dan tanaman rempah, tampak buah kopi yang mulai memerah dan siap dipanen. Wawancara pun berlanjut sambil memetik kopi langsung dari pohonnya, menghadirkan suasana khas pertanian rakyat yang masih sangat dekat dengan alam.

Hamparan tanaman kopi yang tumbuh berdampingan dengan pisang, merica, dan cabai jawa menjadi gambaran nyata bagaimana diversifikasi tanaman dapat menciptakan ketahanan ekonomi sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan. Bagi Pak Karjo, pertanian bukan sekadar menghasilkan panen, tetapi juga menjaga siklus alam agar tetap lestari untuk generasi berikutnya.

Langkah sederhana yang dilakukan Pak Karjo di Lembah Progo kini menjadi contoh bahwa pertanian sirkular dapat dibangun dari kebiasaan sehari-hari, memanfaatkan potensi lokal, dan tetap berpijak pada kearifan alam.(JP_3)


MITRA JURNALISPRENEUR.ID